Category: Artikel

Ancaman Terhadap Anak Dapat Menimbulkan Dampak Negatif

ancaman terhadap anak

Oleh Ida S Widayanti*

Karena suaminya sangat sibuk, seorang ibu rumah tangga begitu kerepotan mengurus ketiga anaknya. Di saat libur, si ayah pun sudah kelelahan, ia ingin beristirahat di rumah tanpa diganggu anak-anaknya. Sehingga anak-anak pun hanya dekat dengan ibunya.

Si ibu yang sejak kecil dimanja dan terbiasa hidup senang merasa bingung mengurus ketiga anaknya yang masih kecil-kecil dan sangat bergantung padanya. Tinggal di ibu kota, jauh dari orangtua, dan pengasuh yang sering keluar-masuk, membuatnya sering mengalami tekanan.

Seiring berjalannya waktu, si ibu menemukan cara ampuh dalam mendidik anak-anaknya, khususnya dalam hal kedisiplinan. Ketika anak-anaknya tak mau berhenti main air, ia cukup berkata, “Kalau main air terus, Mama tinggal, nih!” Mendengar hal itu serta merta anak-anaknya mengakhiri kegiatannya. Demikian juga saat ia merasa pening mendengar tangisan anaknya, maka spontanitas berkata, “Sudah jangan menangis! Kalau nangis terus Mama tinggal, ya!” Lalu anak-anaknya pun berusaha sekuat tenaga menghentikan tangisnya.

Untuk memberikan ‘shock theraphy,’ ibu tersebut memang pernah meninggalkan anak-anaknya yang dikunci di dalam rumah karena tidak mengikuti kata-katanya. Senjata tersebut menurutnya ampuh dan anak-anaknya menjadi kapok. Di saat berkunjung ke rumah orang lain, atau sedang dalam keramaian, dan ia khawatir anaknya terlihat tidak tertib, maka ancaman ‘akan meninggalkan’ mereka sangat manjur.

Tahun mulai berganti. Anak sulung ibu tersebut, sebut saja namanya Putri, sudah menginjak remaja dan memiliki teman dekat seorang pria yang sudah cukup dewasa. Melihat Putri, si gadis remaja yang sangat bergantung, temannya itu mulai memanfaatkan kesempatan. Sedikit saja mengancam putus, maka serta merta Putri akan menuruti segala keinginan kekasihnya itu. Hingga suatu hari, Putri diajak melakukan hal yang terlarang. Tentu saja Putri menolak. Namun pria itu berkata, “Kalau kamu tidak mau, aku tinggal ya. Kita putus saja!”

Kalimat itu begitu menakutkan Putri. Tanpa disadari ancaman-ancaman akan ditinggal yang ia terima sejak kecil sangat memengaruhi dirinya. Ia seakan lumpuh dan pasrah, meski hati kecilnya berontak.

Kisah di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa mendidik anak dengan ancaman dapat menimbulkan dampak negatif. Alyson Schafer dalam bukunya “Honey, I Wrecked The Kids” mengatakan, bahwa saat kita sering memaksa anak, menurutnya hal itu secara tidak sengaja mengajarkan anak untuk mengabaikan suara hatinya dengan mengatakan “Tidak!” Sehingga saat dewasa ia cenderung tak mampu menolak. Menurut hasil penelitiannya banyak anak terkena kekerasan seksual atau narkoba adalah anak-anak yang tampak baik dan patuh. Kepatuhan mutlak karena ancaman, ternyata berdampak negatif. Anak juga menjadi patuh pada teman-temannya yang mengancam meskipun salah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Anak berasal dari usahanya (orangtua)” (Riwayat Abu Dawud). Jika anak dididik oleh orangtua dengan ancaman, maka dengan ancaman pula yang akan mengendalikan dirinya. Namun, jika anak dibesarkan dengan pengertian dan penjelasan, maka ia akan menjalani kehidupan ini dengan pemahaman dan pemaknaan yang dalam.

Semoga kita termasuk orangtua yang dilimpahkan kesabaran dan keikhlasan oleh Allah Ta’ala dalam mendidik buah hati kita. *Penulis Buku ‘Mendidik Karakter dengan Karakter’ SUARA HIDAYATULLAH JUNI 2012

Buku Pendidikan Karakter

Share

Mendidik Karakter Dengan Karakter Karena Anak Mencontoh Anda

mendidik karakter dengan karakter

mendidik karakter dengan karakter

Mendidik Karakter dengan Karakter

Seorang anak berusia sekitar empat tahun berdiri memerhatikan ayahnya yang sedang memperbaiki motor di halaman rumahnya. Si ayah begitu asyik membongkar satu demi satu onderdil kendaraan beroda dua tersebut, tanpa ia sadari anak laki-lakinya mengamati dirinya. Si anak terus memperhatikan ayahnya sambil sesekali memainkan mainannya. Berjam-jam sudah berlalu, namun si ayah begitu tenggelam dengan pekerjaannya.

Mari kita perhatikan pentingnya mendidik karakter dengan karakter . Keesokan harinya si anak diajak berbelanja oleh ibunya ke pasar. Saat melewati sebuah toko mainan, anak tersebut menarik tangan ibunya dan meminta dibelikan sebuah mainan motor-motoran. Si ibu yang tidak berencana membelikan mainan, tentu saja tidak mengabulkannya. Si anak pun merengek. Si ibu menjelaskan bahwa uangnya untuk berbelanja makanan, namun si anak malah menangis. Si ibu mulai tidak sabar. Ia tetap mengatakan ‘tidak’ sambil marah. Tangisan si anak pun makin keras bahkan ia mulai mengamuk.

Melihat anaknya yang mengamuk di tempat umum, si ibu akhirnya menyerah. Ia pun membelikan mainan tersebut walaupun tetap sambil memarahi anaknya. Si anak begitu senang hatinya mendapatkan mainan yang sangat diinginkannya. Seharian itu ia asyik memainkan motor-motorannya.

Keesokan harinya, ia tetap memainkan motor barunya itu. Namun, cara memainkannya sudah mulai berbeda. Ia membongkar motor mainannya itu. Dengan alat yang ia temukan, dilepasnya satu persatu komponen motor-motorannya itu, sambil membayangkan apa yang dilakukan ayahnya.

Tiba-tiba ibunya datang dan kaget melihat motor-motoran yang baru dibeli sehari itu sudah tidak jelas bentuknya. Marahlah sang ibu, berkali-kali ia mengatakan betapa nakalnya si anak, bahkan kemudian dipukulinya anak itu dengan gagang sapu.

Waktu berlalu, sampai suatu hari ia melihat ayahnya kembali membongkar motornya. Anak itu kemudian mengambil sapu, dipukulnya kepala ayah dengan gagang sapu dari belakang. Betapa kaget dan marahnya si ayah pada si anak yang dianggapnya ‘kurang ajar’ itu. Ia balik memukul anaknya dengan sapu agar ia jera.
Suatu ketika, saat liburan, si anak yang sudah makin besar itu pulang ke kampung halaman ayah-ibunya. Begitu sampai di rumah kakeknya, si kakek berkata, “O, ini ya cucu yang nakal itu!” Ketika ia ke rumah pamannya, kalimat serupa pun menyambutnya.

Si anak begitu marah dalam hatinya pada ayah-ibunya yang sudah menyebarluaskan “kenakalannya” itu, padahal ia merasa tidak demikian. Yang dilakukannya selama ini hanyalah sekadar memuaskan keingintahuannya.

Akhirnya, anak tersebut merasa bahwa dirinya memang anak nakal. Berbagai hal yang dilakukannya kerap merepotkan kedua orangtuanya. Walaupun kemudian di usia dewasanya ia telah berubah, namun kemarahan di hatinya pada orangtuanya tidak berubah.

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia dikaruniai rasa ingin tahu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasa ingin tahu adalah modal seorang anak untuk mencapai apa yang diinginkan oleh semua orangtua yaitu ‘pandai’. Namun, respon orangtua terhadap rasa ingin tahu anak seringkali tanpa disadari justru mematikan fitrah sang anak untuk menjadi khalifah. Semoga kisah nyata di atas menjadi ibrah bagi kita semua.

Mendidik Karakter Anak Dengan Karakter Orang Tua

Mendidik Karakter Anak Dengan Karakter Orang Tua

Dapatkan kisah lengkapnya di Buku Pendidikan Karakter:

Buku Paket Pendidikan Karakter 3 Buah Buku :
1. Bahagia Mendidik Bahagia Mendidik
2. Belajar Bahagia Bahagia Belajar
3. Mendidik Karakter Dengan Karakter
4. Anak Dari Surga Menuju Surga

Hanya 190.000

hubungi :

Ahli SEO Aditya Nur Baskoro
087 888 765 439

Oleh Ida S Widayanti* penulis buku  Mendidik Bahagia, Bahagia Belajar

 

Share