Author: mendidikkarakter

Buku Pendidikan Karakter Testimoni Buku Belajar Bahagia Bahagia Belajar

Buku Pendidikan Karakter

Buku Pendidikan Karakter - Belajar Bahagia

Buku Pendidikan Karakter – Belajar Bahagia

Buku Pendidikan Anak ini menjelaskan Keberhasilan dalam mendidik anak dimulai dari keberhasilan pasangan membangun kebahagiaan rumah tangganya. Orangtua yang berbahagia akan membahagiakan anak-anaknya, sehingga akan hadir suasana menyenangkan untuk belajar dan tumbuh kembang sesuai harapan.

Kisah-kisah dalam buku ini juga berisi cara memotivasi anak dalam belajar. Seringkali dalam mengasuh dan mendidik anak-anak, orangtua ingininstan sehingga menempuh cara paksaan atau ancaman. Namun dalam buku ini, pembaca dapat bercermin cara mendidik inspiratif dan memberi pengaruh lebih dalam dan bertahan lama.

Berikut ini testimoni dari beberapa orang yang sudah membaca Buku Pendidikan Karakter Belajar Bahagia Bahagia Belajar karya Ibu Ida S. Widayanti:

Membaca buku ini , Anda akan merasakan aliran energi cinta, kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab, yang merupakan fitrah serta kebutuhan setiap umat manusia. Inilah aplikasi dari kecerdasan spiritual(SQ)

Dr. H. C Ary Ginanjar Agustian
Penulis buku best seller ESQ : Rahasia sukses membangun kecerdasan Emosi dan Spiritual
Founder of ESQ Business School

Buku ini sangat baikkarena bercerita tentang keseharian mengandung bulir-bulir hikmah yang dapat mengilhami dan bermanfaat bagi orangtua

Elly Risman
Psikolog

Kejelian mengamati berbagai peristiwakeseharian adalah kecerdasan. akan tetapi merenungi, menyimak dan menemukan yang ada dibaliknya adalah kebijaksanaan. Dan buku ini sarat kebijaksanaan, memukau menyentuh dan mencerahkan.

Hana Djumhana Bastaman
Guru Besar Psikologi Universitas Indonesia

Buku ini semacam catatan hati yang ditulis secara menarik dan insa Allah akan memberi inspirasi bagi yang membacanya

Helvy Tiana Rosa
Sastrawan

Buku ini mudah-mudahan dapat memberikan banyak hal kepada Anda sebagaiaman saya merasakan atau mungkin lebih dari itu

Mohammad Fauzil Adhim
Penulis

Harga Buku Pendidikan Karakter : Rp.50.000,-

Pemesanan hubungi :

Pin BB: 28BCB8F0

Hp: 087 888 765 439

BUKU PARENTING PENDIDIKAN KARAKTER ANAK DAN ORANGTUA UNTUK HADIAH SOUVENIR, BUKU PENDIDIKAN ANAK, BUKU MENDIDIK KARAKTER, BUKU PAKET PENDIDIKAN KARAKTER

 

Share

Buku Pendidikan Karakter Testimoni Buku Bahagia Mendidik Mendidik Bahagia

Buku Pendidikan Karakter

karya Ibu Ida S. Widayanti: Buku Bahagia Mendidik Mendidik Bahagia | Berikut ini testimoni dari beberapa orang yang sudah membaca Buku yang termasuk dalam kategori 

Catatan Parenting - Buku Pendidikan Karakter

Catatan Parenting – Buku Pendidikan Karakter

Proses belajar-mengajar seyogyanya menjadi hal yang sangat membahagiakan bagi pendidik maupun yang dididik, karena sesungguhnya manusia adalah makhluk pembelajar sejak awal kehidupannya. Buku ini menghantarkan pembacanya baik guru maupun orang tua untuk menemukan keindahan dalam dunia pendidikan pengasuhan agar anak-anak menemukan apa yang didambakan seluruh umat manusia yaitu KEBAHAGIAAN

 

Buku Pendidikan Karakter ini Menginspirasi pembaca agar mewujudkan apa yang disebut secara eksplisit dalam hadits Nabi ‘Baiti Jannati’ rumah sebagai surga bagi anak maupun orangtua untuk menyuburkan akhlak mulia.

Prof. Dr. Didin Hafidhuddin
Direktur Program Pasca Sarjana
Universitas Ibnu Khaldun

Buku Pendidikan Karakter ini dengan gayanya yang halus dan sederhana, memberikan banyak contoh kasus dari kenyataan sehari-hari, sehingga daripadanya para pembaca bisa mengambil pelajaran berharga, dimana dan bagaimana sebaiknya para orangtua menempati posisi yang ideal demi terbangunnya kecerdasan dan kebahagiaan putra-putrinya.

Yudhistira ANM Massardi
Budayawan

Buku ini penting agar anak-anak Indonesia mendapat kegembiraan saat belajar karena mereka dididik oleh orangtua dan guru yang berbahagia

Kak Seto
Ketua Dewan Pembina Komnas Anak

Kasih sayang ibu pada buah hatinya terasa begitu hangat dalam buku ini. Perasaan akan besarnya kasih sayang ibu akan menghantarkan kesadaran seseorang akan adanya pancaran kasih sayang tiada bandingnya, yaitu Arrahmaan Arrahimm Sang Maha Pemilik kasih Sayang.

Ary Ginanjar Agustian
Trainer & Penulis best seller ESQ

Buku ini merupakan kumpulan mutiara kehidupan yang amat berharga. Penulis berhasil mengambilnya dari ‘kerang-kerang’ peristiwa yang berserak di keseharian. Patut dibaca, oleh siapapun yang ingin mengasah ketajaman mata hati, memperbaiki karakter diri, dan memuliakan hidupnya.

Irawati Istadi
Pengisi berbagai workshop parenting

Menjadi orang tua adalah proses belajar yang panjang. Buku berharga ini sangat penting dibaca oleh semua orang yang ingin belajar menjadi orang tua terbaik.

Dina Y. Sulaiman
Penulis buku best seller Doktor Cilik

Saya tak perlu terlalu lama mengedit setiap kali artikel-artikel yang ditulis oleh penulis buku ini masuk ke dapur redaksi majalah Suara Hidayatullah. Artikel-artikel tersebut buat saya bukan sekadar bagus tapi seakan memiliki ‘jiwa’. Mungkin karena sang penulis tak hanya piawai mengolah kata-kata, tapi telah menyatukan apa yang ia tulis dan apa yang ia lakukan.

Mahladi
Pemimpin Redaksi Majalah Suara Hidayatullah

Saya sebagai seorang ibu selalu merasa haus akan buku-buku yang membuka paradigma dan memberikan pencerahan seperti ini. Nuansa spiritual yang kental dalam buku ini menjadikannya makanan jiwa dan pada saat yang sama juga memuaskan dahaga intelektual.

Amelia Naim Indrajaya
Penulis buku best seller Serial Bila Nurani Bicara

Penuangan pengalaman yang luar biasa. Subhanallah…betul-betul kita belajar menjadi ‘Orangtua yang dewasa dari anak-anak’

Elisa Kasali
Pemilik PAUD Kutilang

Ditulis dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah dicerna oleh berbagai kalangan pembaca. Good Luck buat Ida, ditunggu karya-karyanya yang lain.

Karmadeli Rawi
KASI PAUD Dinas Pendidikan Provisi Jambi

Membaca buku ini membuat saya terhindar dari Baby Blues seperti pasca melahirkan sebelumnya, juga membantu saya meningkatkan kesabaran dalam mendidik buah hati

Dyah Saraswati
ibu rumah tangga
Pemilik toko buku mak dee

Para ayah memerlukan inspirasi agar bersemangat menjadi ayah yang pas untuk anaknya. This book awsakening parent perfectly in simple way


Abdul Rahman Rasyid
Presenter, Producer & Communication Specialist

Tak ada kata lain, jelas serial catatan parenting ini adalah buku panduan wajib dalam mendidik anak. Saya sebar dan promosikan buku ini pada teman-teman A Must Read Book !

Lia H
Guru SMP Pesat Bogor
Owner Kutu Buku Store

Harga Buku Pendidikan Karakter : Rp.50.000,-

Pemesanan hubungi :

Pin BB: 28BCB8F0

Hp: 087 888 765 439

BUKU PARENTING PENDIDIKAN KARAKTER ANAK DAN ORANGTUA UNTUK HADIAH SOUVENIR, BUKU PENDIDIKAN ANAK, BUKU MENDIDIK KARAKTER, BUKU PAKET PENDIDIKAN KARAKTER

 

Share

Ancaman Terhadap Anak Dapat Menimbulkan Dampak Negatif

ancaman terhadap anak

Oleh Ida S Widayanti*

Karena suaminya sangat sibuk, seorang ibu rumah tangga begitu kerepotan mengurus ketiga anaknya. Di saat libur, si ayah pun sudah kelelahan, ia ingin beristirahat di rumah tanpa diganggu anak-anaknya. Sehingga anak-anak pun hanya dekat dengan ibunya.

Si ibu yang sejak kecil dimanja dan terbiasa hidup senang merasa bingung mengurus ketiga anaknya yang masih kecil-kecil dan sangat bergantung padanya. Tinggal di ibu kota, jauh dari orangtua, dan pengasuh yang sering keluar-masuk, membuatnya sering mengalami tekanan.

Seiring berjalannya waktu, si ibu menemukan cara ampuh dalam mendidik anak-anaknya, khususnya dalam hal kedisiplinan. Ketika anak-anaknya tak mau berhenti main air, ia cukup berkata, “Kalau main air terus, Mama tinggal, nih!” Mendengar hal itu serta merta anak-anaknya mengakhiri kegiatannya. Demikian juga saat ia merasa pening mendengar tangisan anaknya, maka spontanitas berkata, “Sudah jangan menangis! Kalau nangis terus Mama tinggal, ya!” Lalu anak-anaknya pun berusaha sekuat tenaga menghentikan tangisnya.

Untuk memberikan ‘shock theraphy,’ ibu tersebut memang pernah meninggalkan anak-anaknya yang dikunci di dalam rumah karena tidak mengikuti kata-katanya. Senjata tersebut menurutnya ampuh dan anak-anaknya menjadi kapok. Di saat berkunjung ke rumah orang lain, atau sedang dalam keramaian, dan ia khawatir anaknya terlihat tidak tertib, maka ancaman ‘akan meninggalkan’ mereka sangat manjur.

Tahun mulai berganti. Anak sulung ibu tersebut, sebut saja namanya Putri, sudah menginjak remaja dan memiliki teman dekat seorang pria yang sudah cukup dewasa. Melihat Putri, si gadis remaja yang sangat bergantung, temannya itu mulai memanfaatkan kesempatan. Sedikit saja mengancam putus, maka serta merta Putri akan menuruti segala keinginan kekasihnya itu. Hingga suatu hari, Putri diajak melakukan hal yang terlarang. Tentu saja Putri menolak. Namun pria itu berkata, “Kalau kamu tidak mau, aku tinggal ya. Kita putus saja!”

Kalimat itu begitu menakutkan Putri. Tanpa disadari ancaman-ancaman akan ditinggal yang ia terima sejak kecil sangat memengaruhi dirinya. Ia seakan lumpuh dan pasrah, meski hati kecilnya berontak.

Kisah di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa mendidik anak dengan ancaman dapat menimbulkan dampak negatif. Alyson Schafer dalam bukunya “Honey, I Wrecked The Kids” mengatakan, bahwa saat kita sering memaksa anak, menurutnya hal itu secara tidak sengaja mengajarkan anak untuk mengabaikan suara hatinya dengan mengatakan “Tidak!” Sehingga saat dewasa ia cenderung tak mampu menolak. Menurut hasil penelitiannya banyak anak terkena kekerasan seksual atau narkoba adalah anak-anak yang tampak baik dan patuh. Kepatuhan mutlak karena ancaman, ternyata berdampak negatif. Anak juga menjadi patuh pada teman-temannya yang mengancam meskipun salah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Anak berasal dari usahanya (orangtua)” (Riwayat Abu Dawud). Jika anak dididik oleh orangtua dengan ancaman, maka dengan ancaman pula yang akan mengendalikan dirinya. Namun, jika anak dibesarkan dengan pengertian dan penjelasan, maka ia akan menjalani kehidupan ini dengan pemahaman dan pemaknaan yang dalam.

Semoga kita termasuk orangtua yang dilimpahkan kesabaran dan keikhlasan oleh Allah Ta’ala dalam mendidik buah hati kita. *Penulis Buku ‘Mendidik Karakter dengan Karakter’ SUARA HIDAYATULLAH JUNI 2012

Buku Pendidikan Karakter

Share

Mendidik Karakter Dengan Karakter Karena Anak Mencontoh Anda

mendidik karakter dengan karakter

mendidik karakter dengan karakter

Mendidik Karakter dengan Karakter

Seorang anak berusia sekitar empat tahun berdiri memerhatikan ayahnya yang sedang memperbaiki motor di halaman rumahnya. Si ayah begitu asyik membongkar satu demi satu onderdil kendaraan beroda dua tersebut, tanpa ia sadari anak laki-lakinya mengamati dirinya. Si anak terus memperhatikan ayahnya sambil sesekali memainkan mainannya. Berjam-jam sudah berlalu, namun si ayah begitu tenggelam dengan pekerjaannya.

Mari kita perhatikan pentingnya mendidik karakter dengan karakter . Keesokan harinya si anak diajak berbelanja oleh ibunya ke pasar. Saat melewati sebuah toko mainan, anak tersebut menarik tangan ibunya dan meminta dibelikan sebuah mainan motor-motoran. Si ibu yang tidak berencana membelikan mainan, tentu saja tidak mengabulkannya. Si anak pun merengek. Si ibu menjelaskan bahwa uangnya untuk berbelanja makanan, namun si anak malah menangis. Si ibu mulai tidak sabar. Ia tetap mengatakan ‘tidak’ sambil marah. Tangisan si anak pun makin keras bahkan ia mulai mengamuk.

Melihat anaknya yang mengamuk di tempat umum, si ibu akhirnya menyerah. Ia pun membelikan mainan tersebut walaupun tetap sambil memarahi anaknya. Si anak begitu senang hatinya mendapatkan mainan yang sangat diinginkannya. Seharian itu ia asyik memainkan motor-motorannya.

Keesokan harinya, ia tetap memainkan motor barunya itu. Namun, cara memainkannya sudah mulai berbeda. Ia membongkar motor mainannya itu. Dengan alat yang ia temukan, dilepasnya satu persatu komponen motor-motorannya itu, sambil membayangkan apa yang dilakukan ayahnya.

Tiba-tiba ibunya datang dan kaget melihat motor-motoran yang baru dibeli sehari itu sudah tidak jelas bentuknya. Marahlah sang ibu, berkali-kali ia mengatakan betapa nakalnya si anak, bahkan kemudian dipukulinya anak itu dengan gagang sapu.

Waktu berlalu, sampai suatu hari ia melihat ayahnya kembali membongkar motornya. Anak itu kemudian mengambil sapu, dipukulnya kepala ayah dengan gagang sapu dari belakang. Betapa kaget dan marahnya si ayah pada si anak yang dianggapnya ‘kurang ajar’ itu. Ia balik memukul anaknya dengan sapu agar ia jera.
Suatu ketika, saat liburan, si anak yang sudah makin besar itu pulang ke kampung halaman ayah-ibunya. Begitu sampai di rumah kakeknya, si kakek berkata, “O, ini ya cucu yang nakal itu!” Ketika ia ke rumah pamannya, kalimat serupa pun menyambutnya.

Si anak begitu marah dalam hatinya pada ayah-ibunya yang sudah menyebarluaskan “kenakalannya” itu, padahal ia merasa tidak demikian. Yang dilakukannya selama ini hanyalah sekadar memuaskan keingintahuannya.

Akhirnya, anak tersebut merasa bahwa dirinya memang anak nakal. Berbagai hal yang dilakukannya kerap merepotkan kedua orangtuanya. Walaupun kemudian di usia dewasanya ia telah berubah, namun kemarahan di hatinya pada orangtuanya tidak berubah.

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia dikaruniai rasa ingin tahu oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasa ingin tahu adalah modal seorang anak untuk mencapai apa yang diinginkan oleh semua orangtua yaitu ‘pandai’. Namun, respon orangtua terhadap rasa ingin tahu anak seringkali tanpa disadari justru mematikan fitrah sang anak untuk menjadi khalifah. Semoga kisah nyata di atas menjadi ibrah bagi kita semua.

Mendidik Karakter Anak Dengan Karakter Orang Tua

Mendidik Karakter Anak Dengan Karakter Orang Tua

Dapatkan kisah lengkapnya di Buku Pendidikan Karakter:

Buku Paket Pendidikan Karakter 3 Buah Buku :
1. Bahagia Mendidik Bahagia Mendidik
2. Belajar Bahagia Bahagia Belajar
3. Mendidik Karakter Dengan Karakter
4. Anak Dari Surga Menuju Surga

Hanya 190.000

hubungi :

Ahli SEO Aditya Nur Baskoro
087 888 765 439

Oleh Ida S Widayanti* penulis buku  Mendidik Bahagia, Bahagia Belajar

 

Share

Seminar Parenting : Menjadi Teman Bagi Anak Saat Memasuki Usia Remaja

Flyer-Seminar-PIKA

Seminar Parenting : Menjadi Teman Bagi Anak Saat Memasuki Usia Remaja
Diselenggarakan oleh PIKA 165 (Persatuan Isteri Ksatria 165)

“Rumah merupakan lembaga pertama untuk mendidik anak, cikal bakal terbentuknya masyarakat yang terdidik”

Anak adalah amanah terindah dari Allah yang kelak harus dapat dipertanggungjawabkan oleh orangtua. Rumah merupakan lembaga pertama untuk mendidik anak, cikal bakal terbentuknya masyarakat yang terdidik.  Setiap anak akan mengalami masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa yang sering disebut dengan masa remaja. Pada tahapan ini perkembangan intensif secara fisik dan psikologis. Dapat dimengerti jika ini adalah waktu yang penuh dengan kebingungan dan pergolakan bagi banyak keluarga.

Dari sisi psikologis, banyak anak yang menunjukkan perubahan perilaku yang cukup dramatis di hadapan orangtuanya. Salah satu stereotip khas remaja adalah melawan, sekalipun kondisi Masa ini memang masa di mana anak mengalami pasang surut emosi yang sangat labil. Pada masa ini kebanyakan diikuti dengan perilaku anak-anak yang mulai memisahkan diri dari orangtua dan menjadi semakin “mandiri”. Mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan teman sebayanya, seperti dalam hal penampilan dan juga identitas. Mereka mulai mengenal “stress” atau dalam bahasa mereka “galau” dan mulai timbul konflik dengan orang tua. Akhirnya, yang sering terjadi dari kondisi diatas, orang tua bingung bagaimana berkomunikasi dengan anak, anak segan berkomunikasi dengan orang tua. Anak lebih suka berkeluh kesah kepada teman sebayanya yang tak mampu memberikan solusi.

Karenanya, untuk mensikapi permasalahan serta kondisi diatas, Persatuan Istri Ksatria 165 atau yang dikenal dengan PIKA 165 menyelenggarakan Seminar “Menjadi Teman Bagi Anak Saat Memasuki Usia Remaja”.

Tujuan:
1.Orangtua memiliki pemahaman menyeluruh mengenai tahapan perkembangan anak khususnya fase peralihan dari anak-anak ke dewasa
2.Orangtua mendapatkan ilmu praktis yang dapat diaplikasikan dalam keseharian
3.Melatih diri bersama menjadi orang tua yang memahami karakter perkembangan anak
4.Menciptakan kedekatan hubungan orang tua dan anak
5.Membimbing dan melahirkan generasi remaja yang mampu menemukan jati diri sehingga tumbuh dalam kemandirian dan sikap positif yang berguna bagi masa depannya

Hari        : Minggu, 21 April 2013
Waktu       : 08.00 – 12.00
Tempat      : Menara 165 Jl. TB. Simatupang Kav. 1 Cilandak Jakarta Selatan
Investasi : Rp. 165.000

Informasi Lebih Lanjut Hubungi:
Maya Puguh 08179909165 | Amalia Imani 0877 8865 7444 | Adit 087 888 765 439

Paket-Mendidik-Karakter

Share